Cahaya Eksotis dari Goa Jomblang

Apa aktifitas yang dibiasa dilakukan saat berlibur di Jogjakarta? Jalan sambil melihat kesenian? Belanja batik atau aksesoris etnik yang unik? Atau wisata kuliner sampai perut penuh sesak dengan makanan yang enak dan murah? Sepertinya saya dan banyak orang diluar sana pernah melakukannya. Tetapi bagaimana kalau wisata adrenalin?

Walaupun bertubuh mungil bukan berarti keberanian saya juga mungil loh (sombong). Didasari prinsip anak muda milenials sekarang, YOLO, saya tertantang untuk mencoba hal-hal yang baru dan aga ekstrim. Tentu dalam konteks yang sesuai norma dan tidak merugikan orang lain apalagi diri sendiri yaa.

Ada beberapa aktifitas adrenalin yang pernah saya coba di Jogja ini, contohnya yaitu naik gondola menyebrang ke Pulau Timang lalu sebelumnya terbang diatas Pantai Depok dan sebenarnya beberapa taun sebelumnya saya pernah caving di Goa Jomblang.

Sebenarnya pertama kali mengetahui wisata ini dari acara Kick Andy di Metrotv. Saat itu sedang ada wawancara yang sukses membangun daerahnya salah satunya Cahyo Alkantana seorang geologis dan juga seorang pecinta alam. Singkat cerita dari hasil wawancara itu saya langsung bilang ke Ibu saya, “Mah, pokoknya aku mau coba itu”. Yang dibalas mamah dengan tatapan pasrah.

Meskipun sama-sama Goa judulnya tetapi Goa Jomblang berbeda loh dari teman seper-Goa-an lain yang bernama Goa Pindul. Di Goa Pindul kan kita menyusuri aliran sungai disepanjang lorong dengan menggunakan ban dalam besar (atau tube) dan jaket pelampung atau yang dikenal dengan istilah cave tubing. Nah kalau di Goa Jomblang wisata yang ditawarkan itu adalah menyusuri lobang vertical dengan cara SRT (Single Rope Technique).

Hah? Apaan tuh?

Sama seperti Goa Pindul, Goa Jomblang juga terletak di daerah Gunung Kidul sekitar 60KM dari pusat kota Jogjakarta. Untuk mencoba wisata alam ini harus diawali dengan niat yang super ya karena perjalanan yang cukup panjang, jalan yang “bergoyang” alias terjal dan berbatu serta biaya yang cukup merogoh kocek yang lumayan dalam. Tetapi untuk pengalaman dan juga pemandangan yang luar biasa nantinya rasanya semua niat tadi akan dibalas setimpal 🙂

Dari informasi yang saya dapat via mbah google, Goa Jomblang ini bertipe Collapse Doline yaitu terbentuk dari proses geologi karena amblesnya tanas serta proses vegetasi yang berada diatas goa ke dasar bumi yang kemudian membentuk lubang besar (sink hole). Untuk bisa menikmati goa ini kita harus booking dulu yah guys karena memasukinya butuh peralatan khusus dan pendamping yang bersertifikat serta dibatasi hanya sampai 25 orang saja.

Kenapa segitunya yah? Jelas.

Karena untuk bisa memulai perjalanan ini kita harus bisa mencapai dasar goa dengan beberapa ketinggian dari 40m, 60m, sampai 80m bergantung dari titik awal dimulai. Teknik SRT (Single Rope Technique) atau turun dengan seutas tali ini harus dengan pendampingan sang ahli ditambah peralatan safety lainnya yaitu sepatu boot, helm, coverall, dan headlamp.

Rasanya seru loh dikeret-keret (if you know what I mean) bergelantungan dengan seutas tali diketinggian 60m diatas permukaan tanah. Mungkin juga karena bobot yang ringan jadi terasa sekali ayunan ke-kanan dan ke-kiri. Haha.

C65C6586-F7DF-4B7A-B1CA-FEC7D9BEC1C67DCC45D5-467F-4D49-8B77-8EC497EDFECCC772032F-2116-4891-9D59-2F6C7DA4B470

Saat menapaki dasar goa, perjalanan belum selesai. Saya dan beberapa orang saat itu harus berjalan menuju Luwung Grubug yang berlokasi di ujung lorong. Dalam perjalanan menuju kesana kami bisa menikmati lumut yang serupa karpet hijau, hijaunya aneka pepopohan dan juga paku-pakuan. Segar rasanya bisa menghirup udara bersih sebanyak-banyaknya. Walaupun sudah ada jalan setapak tetapi harus tetap berhati-hati karena udara yang lembab jadi terkadang licin saat ditapaki.

CDE8ECCB-0B05-4589-90A0-C2083E78BF0C769EB98E-0C57-4F94-AE75-350B03B5B3A81059751E-10E6-4F28-B361-ED4FBF75A670

Udah itu aja pemandangannya? Eits, belum selesai.

Memasuki Luwung Grubug kita akan memasuki kembali lorong gua yang cukup besar. Didalamnya terdapat dua stalagmit yang gagah dengan warna hijau kecoklatan. Bila mendengar lebih peka kita juga disajikan suara desiran aliran sungai yang terdapat dibawah gua ini. Alirannya cukup deras mengalir menuju Sungai Kalisuci. Saat musim kemarau kita bisa dengan perahu melintasi aliran sungai ini sampai ke Sungai Kalisuci tetapi jangan coba-coba saat musim hujan karena alirannya super deras!

28D02C6C-F490-4834-AFA8-3E849E9C1DE0D843CB91-E49B-44EB-B7F6-5B3280F574BC

Datang dan nikmati pemandangan luar biasa (red : LUAR BIASA!) sekitar pukul 12:00 – 13:00 saat matahari berada tepat diatas lubang yang terdapat disekitar stalagmit gagah itu. Cahaya matahari yang menerobos masuk kedalam gua biasnya akan melewati celah dedauan menghasilkan pemandangan yang sekali lagi LUAR BIASA. Rasanya tidak salah kalau banyak yang menyebutnya The Light of God.

09288E8B-85C9-4073-A50A-A9659A575280DE32E99F-03BB-4D12-936A-FD6216795B7A

Memang, lukisan Tuhan tiada duanya.

Sehabis puas menikmati, kita harus kembali melewati jalur seperti diawal tadi. Sempat ada guyonan dari salah satu travel writer favourite saya kenapa wisata ini mahal.

Total biaya 450ribu itu terdiri dari 100ribu untuk menarik kita turun dan 350ribu untuk menarik kita kembali keatas. LOL.

Di dalam area Goa Jomblang terdapat kamar mandi yang bisa digunakan untuk membersihkan diri dari lumpur sisa “perjuangan” tadi. Jadi sepakat kan dengan saya kalau niat tadi dibayar dengan setimpal? 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s