Cerita di Jogja (Bagian 2)

Hutan Pinus Mangunan

“Habis makan siang, kita mampir ke Hutan Pinus dulu yah Mbak. Sekalian lewat” Ujar Pak Mawang dibalik kemudinya. Kita sebagai penumpang senang-senang ajah dilewati tempat wisata yang bagus. “Tapi sebentar saja lho ya maksimal 30 menit”, Tambahnya diiringi tatapan bingung dari kami ber-tiga.

Setelah membayar parkir 10 ribu rupiah untuk mobil dan tiket masuk seharga 20 ribu rupiah  untuk berempat, kami bergegas masuk untuk mencari spot foto.

Hutan Pinus Mangunan atau yang populer dengan Pinus Imogiri ini menjadi salah satu spot untuk nongkrong anak muda Jogja bahkan untuk foto prewedding. Daya tarik ada pada panggung ditengah hutannya dengan bangku-bangku penonton membentuk setengah lingkaran. Panggung kecil dan bangkunya semua terbuat dari kayu. Sangat asri.

 

Yogyakarta-Pines

Gambar diambil dari browsing di google

Sinar matahari yang mengenai cabang dan batang pinus yang menjulang tinggi membuat suasana romantis meruak seketika. Tetapi romatisme bukan hanya bisa dinikmati oleh pasangan kan, oleh teman baik juga bisa menyenangkan 🙂

SONY DSC

DSC08188.JPG

Karena pesan Pak Mamang diawal tadi, kami hanya menikmati waktu sebentar saja disini. Tidak sempat menjelajah tiap sudut hutan karena toh harus berbagi dengan banyaknya pengunjung lain. Hutan pinus ini sebenarnya tidak hanya berisi pinus saja tetapi jenis pohon lain seperti mahoni, akasia, kemiri dan kayu putih. Total luasnya yang tidak kurang dari 500 Ha ini pasti menyimpan banyak sudut untuk dijelajah. Tidak hari ini, mungkin lain waktu.

DSC08130.JPG

011

Pantai Timang

Ternyata alasan untuk tidak lama-lama di Hutan Pinus Mangunan karena harus mengejar destinasi selanjutnya. Pantai. Ya, walaupun harus berkendara jauh keluar kota Jogja, tetapi kumpulan Pantai Selatan yang ada di Gunung Kidul mulai populer tidak hanya turis lokal tetapi juga internasional. Sebut saja Pantai Pulang Sawal atau yang dikenal dengan Indrayanti, Pantai Kukup, Pantai Pok Tunggal, Pantai Siung, Pantai Baron dan masih banyak lagi sebenarnya.

Tapi pernahkah mendengar Pantai Timang? Kalau mencari di google maps sih, sampai tulisan ini diterbitkan, belum ada. Lah terus gimana kesana?

Lagi-lagi karena kehebatan Pak Mamang, kami bisa menemukan Pantai Timang yang lokasinya luar biasa JAUH. Sampai papan penunjuk jalan untuk pantai habis, kami masih juga belum menemukan tulisan lokasi yang dituju. Dari Pinus Imogiri perjalanan sudah hampir 1,5 jam dan masih juga tidak ada tanda-tanda Pantai Timang.

Obrolan didalam mobilpun sudah ngalur-ngidul (baca : kemana-mana) dari tulisan di truk yang super konyol :

Kelingan rasane, Ora kelingan rupane

Sampai ke kuliner Jogja yang lagi ngehits sampai cerita tentang politik di Jakarta. Ini beneran Pak Mamang yang tanya loh yah. Saking lamanya perjalanan sampai akhirnya semua diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

Tetapi lamunan saya buyar setelah menemukan papan kecil dipinggir jalan dengan tulisan terima guide ke Pantai Timang. Yes!

Mendekati lokasi akhirnya saya tau alasan arti tulisan “terima guide” dan alasan tidak dideteksinya pantai ini di google maps. Hal ini karena dari parkiran mobil, kami masih harus menggunakan jasa objek penduduk setempat untuk bisa ke Pantai Timang dan jalannya LUAR BIASA. Lokasi Pantai Timang yang jauh ini membuat mereka harus putar otak untuk bisa menambah pemasukan yang sebagian besar dari mereka bekerja sebagai petani dan nelayan udang besar atau lobster.

P1020990

Foto diambil ketika keadaan jalan “aga” baik. Sebelum itu, boro-boro mau ambil foto, tangan kencang pegangan dimotor. Jalan yang berbatu kasar, tanjakan, turunan, melintasi semak rasanya harga 50 ribu rupiah untuk perjalanan pulang pergi tampak sebanding. Apalagi tahu kalau perjalanan ini 3 KM. Manteb!

DSC08210.JPG

Menikmati sunset di pantai ini menjadi spesial karena saya dan Annisa, akan menyebrang ke Pulau Timang. Tidak dengan perahu nelayan tetapi menggunakan gondola. Yap, gondola tradisional ini masih terbuat dari kayu dan akan dioperasikan oleh beberapa warga dengan menggunakan tali dari tambang plastik. Aman? Mudah-mudahan..

DSC08233.JPG

Untitled

Dengan membayar tiket 150 ribu rupiah untuk tiket PP, kami siap menaiki gondola untuk menyerang diatas lautan dengan ombak yang cukup ganas. Jika beruntung (seperti saya saat itu) saat ditengah perjalanan, kamu akan basah kuyup terkena ombak yang menghempas batu karang disisi bawah. It was freaking awsome!

IMG_0360

Kalau mau mencoba tantangan lain, selain dengan gondola kamu juga bisa menyebrang ke Pulau Timang menggunakan jembatan yang lagi-lagi dibuat dari kayu dengan tali tambang sebagai penopangnya. Tenang, ada penduduk sekitar yang menjaga di tengah menjaga agar jembatan seimbang. Aman? Semoga..

Tak lama setelah kembali dari Pulau Timang yang hanya berbentuk seonggok batu karang besar, kami menikmati sunset yang sangat indah. Suddenly, I felt some emotion inside. So glad I could still spend good time with lovely friends. Entah emosi karena hal-hal berat dalam hidup yang pada akhirnya bisa saya lalui atau bersyukur karena gondolanya tidak macet ditengah.

IMG_6762

DSC08244.JPG

Note :

  1. Berkunjunglah ketempat ini jika ada waktu lebih. Karena berdasarkan obrolan dengan warga sekitar, turis yang datang lebih banyak dari Malaysia, Singapur bahkan Korea. Terbukti dari saat kami disana, turis yang datang malah dari Malaysia dan Korea. Masa turis lokal kalah sama turis luar di negeri sendiri 🙂
  2. Walaupun tidak suka aktifitas ekstrim yang memompa adrenalin, kamu tetap bisa menikmati indahnya sunset di Pantai Timang ini

Umbuk Pasir Parangkusumo

Ini menjadi tempat terakhir di trip ini sebelum kembali ke kerasnya kehidupan Jakarta. Umbuk Pasir konon menjadi populer karena video clip terbaru dari Kunto Aji yang berjudul Mercusuar. Disana tokoh utama yang diperankan oleh Rio Dewanto dan Faradina Mufti bertemu pertama kali di Pantai Depok yang tidak jauh dari Umbuk Pasir. Musiknya bagus, liriknya menyentuh. Keren!

P1030065

Umbuk atau dalam bahasa Indonesia berarti gundukan, terletak berdekatan dengan Pantai Parangkritis dan Pantai Depok. Konon, berasal dari abu vulkanik gunung yang terbawa oleh aliran Sungai Opak, Sungai Progo dan sungai-sungai lainnya hingga akhirnya sampai ke Pantai Parangtritis. Saya juga baru tau setelah baca disini.

Disini selain bisa menikmati sunset yang katanya menawan, kamu juga bisa mencoba sand boarding. “padang pasir” ini cukup luas dan ada kontur yang menurun jadi pasti seru untuk mencoba sand boarding. Saat itu kami tidak mencobanya karena malam itu juga harus kembali ke Jakarta. Gak lucu kan kalau nanti kotor dan penuh pasir. Haha

IMG_0339

Jadi kami puas-puasin menikmati dengan bermain ayunan sambil menunggu pulangnya matahari.

Tak lama semburat jingga itu muncul. Sore selalu memberikan kejutan manis.

Note :

Jika datang saat siang hari, gunakan topi atau pelindung kepala karena panas akan sangat menyengat. Serta bisa juga gunakan sunglasses dan masker agar terlindung dari butiran pasir halus.

Memang ada kisah yang berakhir sedih di Jogja ini, namun keramahannya membuat saya, dan pasti banyak orang diluar sana,  selalu rindu untuk mengunjungi kota ini. Lain waktu pasti saya akan “pulang” lagi.

IMG_6688

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s