Cerita di Jogja (Bagian 1)

Pulang ke kotamu

Ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti dulu

Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna

Terhanyut aku akan nostalgi

Saat kita sering luangkan waktu

Nikmati bersama

Suasana Jogja.

Tidak salah kalau group band KLA sampai membuat lagu tentang kota ini. Yaa, siapa yang tidak tersihir dengan pesona kota istimewa ini. Orang-orangnya yang ramah, makanan  yang murah meriah dan juga wisata kota dan alam yang magic. Bagi saya, Jogja menjadi kota kenangan kedua setelah Bandung. Kenangan akan rasa sayang yang harus saya sudahi. For my own good.

Cerita awalnya memang untuk melihat lampion di Borobudur tetapi karena gagal (lagi) jadi harus rombak semua itinerary yang sudah dibuat. Ternyata kata-kata Babang John Lennon bener juga  : Life happens when we are making other plans soalnya karena batal itu saya jadi bisa naik ultralight tribe. Cerita lengkapnya ada disini.

Perjalanan 3 hari 2 malam ini akhirnya diisi dengan banyak tempat yang sebelumnya belum pernah didatangi. Sebenarnya bukan tempat baru sih karena wisata alam semua, hanya saja baru populer dan booming sejak para millenials posting di akun Instagram mereka dengan hastag yang ngebrudul kalau kata orang Sunda.

Situs Ratu Boko

Bangunan batu ini bukan candi loh, Ratu Boko ini sebenarnya adalah bekas keraton kerajaan. Bisa jadi berkaitan dengan Loro Jonggrang karena lokasinya yang tidak jauh dari Candi Prambanan. Lokasinya kurang lebih 2-3 KM dari Candi untuk umat Hindu tersebut. Untuk menikmati situs ini cukup membayar 25 ribu rupiah dari pagi sampai jam 3 sore dan bila datang lebih dari jam 3 akan dikenakan tarif khusus untuk tiket sunset yaitu 100 ribu rupiah.

P1020933

Sempet kaget juga karena dipintu masuknya ada gate dengan kartu. Walaupun saat itu belum bisa digunakan tapi at least sudah ada kemajuan. Setelah lewat dari gate masuk, kita harus menjajal sejumlah anak tangga untuk naik ke area utama. Kalau dari bawah sini sih kelihatan mungil yah situs ini tapi ternyata infonya, luas area Ratu Boko ini 25 ha atau 250,000 m2 loh.

 

Sebelum memasuki gerbang batu yang kokoh, kamu akan dimanjakan dengan hamparan rumput hijau yang luas. Rumputnya yang tumbuh rapat jadi menyerupai hamparan karpet hijau. Nyaman banget untuk leyeh-leyeh! Ga heran banyak pengunjung yang tidur-tiduran sambil baca buku, ngobrol, sampai guling-gulingan biar dapat pose yang oke untuk difoto.

SONY DSC

Kami semua disini mempunyai satu tujuan menanti sang matahari yang akan kembali ke peraduannya. Waktu menunjukan pukul setengah 5 sore saat itu. Penunjung sudah bersiap dengan peralatan tempur masing-masing (baca : kamera) malah ada yang bawa drone untuk bisa menangkap magical view dari balik lensa. Katanya, Ratu Boko ini jadi salah satu tempat terbaik untuk menikmati sunset. Magical view disini terjadi saat warna langit yang berubah menjadi gradasi keemasan dan juga sinar jingga matahari yang membentur gerbang batu. Atau kalau beruntung melihat matahari yang mengintip dari balik pintu utama gerbang batu. Ahh..

Saat kami sudah bersiap diposisi, tetiba datanglah rombongan orang yang jumlahnya BANYAK BANGET. Biasanya sih loket akan ditutup jam setengah 5 sore tetapi ternyata jika ada hari libur seperti ini ternyata loket bisa buka sampai jam 5 sore. Oh no!

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Harapan mendadak sirna karena bukannya menunggu golden momentnya seperti kami di taman rumput tetapi mereka berdiri  TEPAT digerbang sehingga menghalangi view. Ditambah alam yang ikut mendukung kekacauan dengan datangnya awan tebal gelap yang menutupi sang matahari. Haha buyaarr..

SONY DSCSONY DSC

Daripada misuh-misuh karena gak dapat foto yang kece dan, kami lebih memilih untuk beranjak lebih cepat dari jadwal karena toh hari sudah gelap dan perut sudah keroncongan. Hmm sepertinya karena emosi jadi masuk angin.

Note :

Untuk bisa melihat magical view sepertinya harus datang dihari biasa atau weekday jadi jumlah pengunjung yang datang tidak sebanyak saat hari libur.

Hutan Pinus Pengger

Setelah menikmati semangkuk (besar) mie godhok yang hangat tidak jauh dari Ratu Boko, kami mendapat usulan dari Pak Mamang yang akan menemani kami selama di Jogja. “Ada yang suka city lights?” tanya beliau sambil mengesap rokoknya. Kami semua hanya mengganguk karena mulut dipenuhi pisang goreng yang entah mengapa enaknya berlipat malam itu.

Terletak di Dlingo, Bantul, perjalanan ke Pinus Pengger terasa aga lama. Medan yang menanjak membuat Pak Mamang tidak berani memacu kencang mobilnya. Jalannya memang mulus tetapi sempit meski bisa dilalui 2 mobil, menanjak karena harus naik lagi keatas bukit dan juga gelap. Lengkap!

Setelah sampai di tempat memang tidak banyak mobil yang parkir hanya motor yang berjejer rapi. “Duh roman-romannya membludak lagi ini”, batin saya. Tak jauh dari lokasi parkir, kami disambut oleh gerbang kayu dengan bentuk love lengkap dengan lampu-lampu temaram.

SONY DSC

Masih harus jalan menanjak dalam gelapnya hutan pinus, akhirnya kami menemukan kumpulan anak muda yang berkumpul. Ternyata mereka semua antri bergantian untuk bisa berfoto di spot utama. Diulang, ANTRI. Wohoo!

Jadi spot utama untuk foto itu seperti rajutan ranting/akar pohon yang menjulang cukup tinggi dengan bentuk menyerupai sangkar burung. Dibagian tengahnya terdapat lubang dengan ukuran diameter sekitar 1 meter. Gitu ajah?

City light nya akan terlihat dari lubang “sangkar burung” itu menjadi latar belakang foto kita. Yang membuat foto tampak dramatis dari balik kamera itu adanya lampu sorot yang memang sudah ada disana. Mungkin dari pihak pengurus yah? Dan jadilah foto ini. Jreeng…

Processed with VSCO with hb1 preset

Foto ini bisa saya dapatkan karena ada mahasiswa baik hati yang mengambilkan foto dengan DSLR miliknya dan mengirimkannya via email 2 hari kemudian. Saat itu kamera DSLR yang teman saya bawa tidak bisa menangkap cahaya dengan baik dan gambar yang dihasilkan blur padahal sudah menggunakan tripod. The matters sometimes is not only good camera but man behind it.

Walaupun sudah antri dengan tertib untuk bisa foto tetap adaaa saja halangan. Pemandangan akan lebih ciamik lagi kalau tidak ada orang yang lalu lalang dibelakang spot foto itu. Mbok ya kalau ada yang lagi foto berhenti dulu atau mencari jalan yang lain toh leee -.-

Wisata Alam Kalibiru

Nah ini nih tempat yang lagi hits banget. Terletak di Kabupaten Kulon Progo, menuju ke Kawasan Wisata Alam ini membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 – 2 jam dari pusat kota Jogja. Jalan yang dilewati memang lagi-lagi mulus tanpa harus melewati jalan berbatu TAPI karena letaknya 450 m diatas permukaan laut jadi perjalanan ini penuh tanjakan curam malah terkadang tikungan tajam plus tanjakan! Bersyukur bisa ditemani Pak Mamang lagi kesini, karena kalau harus menyetir sendiri bisa-bisa saya menyerang ditengah T.T

Pengelolaan ditempat ini sudah terorganisir dengan baik karena ada beberapa anggota yang berjaga dititik-titik rawan menuju kawasan. Misal saat jalan terlalu sempit dan menanjak, anggota tersebut akan mengatur lalu lintas memberikan jalan terlebih dahulu bagi mobil yang menanjak daripada yang turun.

Saat itu masih menunjukan jam 9 pagi, cukup pagi untuk mengunjungi tempat wisata sebenarnya tetapi ternyata tidak cukup pagi untuk ke Kalibiru ini. Karena mobil yang parkir sudah sangat banyak!

Setelah membayar uang masuk sebesar 45 ribu rupiah untuk  4 orang dan 1 mobil, kami tidak serta merta langsung bisa menemukan spot untuk berfoto ria. Kami masih harus jalan kaki menanjak! Haha..

Ada beberapa spot foto yang bisa dipilih dengan beragam harganya yaitu outdoor activity (jembatan kayu , flying fox, dan beberapa kegiatan lain) seharga 35 ribu rupiah satu paket, spot panggung dan spot bundar masing –masing 15 ribu rupiah dan juga 3 spot bisa (kotak, bunga dan love) seharga masing-masing 10 ribu rupiah. Harga yang disebutkan itu harga untuk berfoto selama 3 menit saja menggunakan jasa fotografer dan tambahan 20 ribu untuk mengambil 1 softcopy foto.      

Betapa kagetnya saya waktu mencoba membeli tiket disalah satu spot. “Dapat antrian nomer 8 ya mbak, nanti bisa foto sekitar jam setengah 2 sore. Antrian sebelum sholat jumat sudah habis dari tadi “ kata Si Mbak. Hah baru dapat jam setengah 2? Sekarang kan baru jam 9!

Tanpa pikir panjang , saya dan teman saya membeli tiket di 2 spot foto berbeda. Takut foto tambah sore karena dibelakang saya masih banyak orang yang mengantri untuk membeli tiket. Karena masih penasaran saya bertanya pada pasangan muda yang asik duduk-duduk menunggu antrian.

“Mas, maaf dapat antrian nomer berapa? Sudah berapa lama antri?” Tanya saya cuek.

“Antrian 50 mbak, nanti dapat jam setengah 12. Tadi sampai sini jam setengah 6“ Jawab si Mas diakhiri dengan tawa keras.

EBUSET!

“Masa iya sih harus menunggu 5 jam disini” Rengek Mega. Saya dan Annisa yang masih penasaran mencari spot yang lebih sepi antrian. Terus berjalan keatas sampai akhirnya menemukan spot yang diinginkan : less crowded, tetap dapat view yang bagus dan plus lebih murah. Mungkin orang malas untuk berjalan menanjak keatas lagi menjadi alasan spot ini lebih sepi. Padahal menurut saya view yang didapat sama bagusnya.

IMG_6722

Sambil menunggu antrian yang hanya 4 nomor atau sekitar 30 menit saja, kami akhirnya foto-foto sendiri di sekitar spot itu. Ada sepasang ayunan yang masih kinyis-kinyis alias baru katanya sih hasil sumbangan.

 

Di spot love ini, sama seperti yang lain hanya disediakan waktu 3 menit setiap orang dan max hanya bisa dinaiki oleh 2 orang. Walaupun kita harus “memanjat” pohon tapi pakai  peralatan safety kok jadi tidak perlu takut.

 

_MG_3462_MG_3482

Double lucky karena saat itu fotografernya baik hati, jadi semua foto kami yang berjumlah 40 foto bisa ditransfer hanya dengan 150 ribu rupiah. Masnya baik 🙂

Setelah tuntas menunaikan foto di Kalibiru, masih ada masalah yang belum terselesaikan. Tiket yang tadi dibeli masih ada, sayang kalau dibuang tapi kalau harus menunggu sampai jam 1:30 buang waktu. Akhirnya pilihan terakhir yaitu : dijual! Berbekal kemampuan seorang sales akhirnya saya bertekad menjual (iya saya ajah teman yang lain berdoa haha). Ga mulus juga jualnya karena ternyata orang yang datang tidak semua mau berfoto di spot karena mungkin tau antrinya panjang. Tapi dengan keinginan yang gigih (ini beneran loh) akhirnya tiket berhasil dijual! Dalam waktu yang singkat dan SEMUA tiket berhasil dijual (kibas rambut).

Latar belakang iconic Kalibiru berupa danau diantara hutan itu sebenarnya adalah Waduk Sermo. Fungsi Waduk Sermo selain sebagai irigasi dan juga menjadi bahan baku untuk air minum Kabupaten Kulon Progo. Karena lingkungan yang masih asri dan terjaga tidak heran kalau waduk ini dinobatkan sebagai bendungan terbaik.

IMG_6726

Note :

  1. Karena waktu foto hanya sebentar, saran saya, banyak-banyak berpose agar banyak juga foto yang dihasilkan. Walaupun tidak semua hasil foto bagus tapi setidaknya kamu akan mendapat banyak pilihan foto untuk diambil nantinya 😉
  2. Datanglah sepagi mungkin! Apalagi kalau akhir pekan atau hari libur seperti ini. Antrian dimulai jam 6 pagi dan spot foto baru dibuka jam 7:30
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s